Senin, 26 September 2016

Keunikan Danau Matano


Bermacam-macam keunikan destinasi danau di Indonesia sangat beragam. Indonesia mempunyai Danau Toba yang sangat luas di Sumatera Utara, Danau Kakaban dengan keunikan ubur-uburnya, Danau Poso dengan pasir putihnya yang bersih dan masih banyak lainnya. Satu lagi di Indonesia mempunyai danau yang unik, tepatnya di Propinsi Sulawesi Selatan.Danau Matano namanya yang mempunyai predikat danau terdalam se Asia Tenggara dan urutan ke delapan di dunia.
Obyek Wisata
danau matano-sulawesi selatanDanau yang terbentuk dari ribuan mata air yang sebagian berada di bawah danau dan bukan aliran anak sungai ini tidak akan mengalami kekeringan walaupun di musin kemarau. Dengan luas sekitar 16.000 hektar dan kedalaman sekitar 600 meter dikelilingi oleh pegunungan bebatuan membuat tempat ini sangat indah untuk memanjakan mata saat melintasi menggunakan perahu. Airnya yang sangat jernih kadang mata akan bisa langsung melihat pemandangan bebatuan dan ikan yang berlalu lalang yang berada di bawah air.
Danau Matano dihuni oleh bermacam-macam fauna endemik air seperti udang, siput, kepiting dan ikan. Uniknya sebagian dari hewan tersebut tidaikan buttuni danau matano sulawesi selatank akan dijumpai didanau-danau lain yang ada di Indonesia. Di danau ini ada species hewan endemik yang khas, namanya ikan purba. Karena warnanya yang kecoklatan dan bentuknya seperti binatang purba ini warga sekitar menyebutnya Ikan Buttini. Ikan ini sangat unik. Menurut beberapa peneliti, Ikan Buttini ini hanya akan hidup dan berkembang biak di Danau Matano. Ikan Buttini sangat digemari oleh masyarakat sekitar danau, tak heran banyak masyarakat yang menggantungkan hidupnya sebagai nelayan Ikan Buttini karena selain sebagai keperluan pribadi Ikan Buttini adalah menu favorit yang dicari oleh wisatawan yang datang untuk menikmati pemandangan Danau Matano.
Selain keunikan hewan endemik, Danau Matano juga memiliki keunikan lainnya. Yaitu beberapa lubang gua yang didalamnya masih terdapat sisa peninggalan sejarah seperti tombak, parang dan alat rumah tangga yang terbuat dari besi kuningan. Sebagian dari gua berada tepat berada di bibir danau, sehingga mulut gua terkadang akan tertutup oleh air danau. Tak jauh dari pemukiman penduduk juga terdapat sebuah gua. Gua tersebut dihuni oleh kelelawar dan terdapat banyak sisa tulang belulang manusia, warga sekitar menyebutnya denga nama Gua Tengkorak. Gua Tengkorak ini dulunya adalaha sebuah makam pada saat penduduk asli belum mengenal agama. Mayat orang yang meninggal akan dimasukan ke dalam gua tersebut.
Terdapat banygua air danau matano sulawesi selatanak tempat yang bisa dikunjungi apabila berada di sekitar Danau Matano. Selain keindahan danau, gua dan ikan endemik. Pengunjung juga bisa menikmati keindahan kolam mata air hidup yang disebut dengan Bura-bura, kesejukan air terjun Mata Buntu, dan melihat langsung kuburan tua suku adat Matano, yang berada di Dusun Matano.
Lokasi
Danau Matano berlokasi di Sorowako, Kecamatan Nuha, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan.
Akses
Akses menuju Sorowako dapat ditempuh melalui darat ataupun udara. Akses melalui udara dapat ditempuh kira-kira 45 menit sedangkan melalui darat dari Makassar-Sorowako dapat ditempuh sekitar 9-10 jam. Tetapi akses memlauli udara sampai saat ini masih terbilang mahal, dikarenakan bandara yang berada di Sorowako merupakan bandara khusus miliki PT. Inco.
Fasilitas dan Akomodasi
Tidak perlu khawatir, danau Matano dilengkapi berbagai fasilitas seperti Kayak, Banana Boat, Jet Ski, Kapal Pesiar, serta didukung dengan penempatan Gasebo, Bungalow, Restaurant, taman bermain untuk anak – anak dan fasilitas lengkap lainnya.
Bermacam-macam keunikan destinasi danau di Indonesia sangat beragam. Indonesia mempunyai Danau Toba yang sangat luas di Sumatera Utara, Danau Kakaban dengan keunikan ubur-uburnya, Danau Poso dengan pasir putihnya yang bersih dan masih banyak lainnya. Satu lagi di Indonesia mempunyai danau yang unik, tepatnya di Propinsi Sulawesi Selatan. Danau Matano namanya yang mempunyai predikat danau terdalam se Asia Tenggara dan urutan ke delapan di dunia. Obyek Wisata danau matano-sulawesi selatanDanau yang terbentuk dari ribuan mata air yang sebagian berada di bawah danau dan bukan aliran anak sungai ini tidak akan mengalami kekeringan walaupun di musin kemarau. Dengan luas sekitar 16.000 hektar dan kedalaman sekitar 600 meter dikelilingi oleh pegunungan bebatuan membuat tempat ini sangat indah untuk memanjakan mata saat melintasi menggunakan perahu. Airnya yang sangat jernih kadang mata akan bisa langsung melihat pemandangan bebatuan dan ikan yang berlalu lalang yang berada di bawah air. Danau Matano dihuni oleh bermacam-macam fauna endemik air seperti udang, siput, kepiting dan ikan. Uniknya sebagian dari hewan tersebut tidaikan buttuni danau matano sulawesi selatank akan dijumpai didanau-danau lain yang ada di Indonesia. Di danau ini ada species hewan endemik yang khas, namanya ikan purba. Karena warnanya yang kecoklatan dan bentuknya seperti binatang purba ini warga sekitar menyebutnya Ikan Buttini. Ikan ini sangat unik. Menurut beberapa peneliti, Ikan Buttini ini hanya akan hidup dan berkembang biak di Danau Matano. Ikan Buttini sangat digemari oleh masyarakat sekitar danau, tak heran banyak masyarakat yang menggantungkan hidupnya sebagai nelayan Ikan Buttini karena selain sebagai keperluan pribadi Ikan Buttini adalah menu favorit yang dicari oleh wisatawan yang datang untuk menikmati pemandangan Danau Matano. Selain keunikan hewan endemik, Danau Matano juga memiliki keunikan lainnya. Yaitu beberapa lubang gua yang didalamnya masih terdapat sisa peninggalan sejarah seperti tombak, parang dan alat rumah tangga yang terbuat dari besi kuningan. Sebagian dari gua berada tepat berada di bibir danau, sehingga mulut gua terkadang akan tertutup oleh air danau. Tak jauh dari pemukiman penduduk juga terdapat sebuah gua. Gua tersebut dihuni oleh kelelawar dan terdapat banyak sisa tulang belulang manusia, warga sekitar menyebutnya denga nama Gua Tengkorak. Gua Tengkorak ini dulunya adalaha sebuah makam pada saat penduduk asli belum mengenal agama. Mayat orang yang meninggal akan dimasukan ke dalam gua tersebut. Terdapat banygua air danau matano sulawesi selatanak tempat yang bisa dikunjungi apabila berada di sekitar Danau Matano. Selain keindahan danau, gua dan ikan endemik. Pengunjung juga bisa menikmati keindahan kolam mata air hidup yang disebut dengan Bura-bura, kesejukan air terjun Mata Buntu, dan melihat langsung kuburan tua suku adat Matano, yang berada di Dusun Matano. Lokasi Danau Matano berlokasi di Sorowako, Kecamatan Nuha, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan. Akses Akses menuju Sorowako dapat ditempuh melalui darat ataupun udara. Akses melalui udara dapat ditempuh kira-kira 45 menit sedangkan melalui darat dari Makassar-Sorowako dapat ditempuh sekitar 9-10 jam. Tetapi akses memlauli udara sampai saat ini masih terbilang mahal, dikarenakan bandara yang berada di Sorowako merupakan bandara khusus miliki PT. Inco. Fasilitas dan Akomodasi Tidak perlu khawatir, danau Matano dilengkapi berbagai fasilitas seperti Kayak, Banana Boat, Jet Ski, Kapal Pesiar, serta didukung dengan penempatan Gasebo, Bungalow, Restaurant, taman bermain untuk anak – anak dan fasilitas lengkap lainnya. Indeks istilah umum: danau matano, hewan endemik yang ada di sulawesi selatan.

Mahalona, Merica dan Ancaman Bencana Alam




Hutan telah dibakar, tiang telah dipancangkan, bibit merica telah ditanam
Apa yang Anda pikirkan saat melihat begitu banyak mobil mewah berlalu-lalang di jalan raya? Barangkali, hal pertama yang terlintas di pikiran adalah, sang pemilik mobil pasti seorang konglomerat, pengusaha kaya raya, atau pejabat. Sejenis orang yang tentu tak kesulitan membeli kendaraan seharga setengah miliar rupiah ke atas.
Tapi di Luwu Timur, tidak demikian. Jika menyusuri jalan-jalan desa, kita akan sangat sering berpapasan dengan mobil-mobil mahal berbagai merk. Fortuner, Hilux, Strada, Pajero, hingga sekelas Avanza. Pemiliknya? Bukan pejabat atau pengusaha, melainkan petani biasa. Mereka adalah petani-petani yang tiba-tiba menjadi menjadi kaya raya dari hasil bertanam merica.
Kebun merica di Kabupaten Luwu Timur paling banyak saya temukan di Kecamatan Towuti. Lahan merica menyebar di sepanjang jalan, di tepi Danau Towuti dan Danau Mahalona, dalam perjalanan menuju kawasan Mahalona. Saya menyebutnya sebagai kawasan Mahalona karena awalnya, daerah ini hanya terdiri atas satu desa (Desa Mahalona) yang kemudian dimekarkan menjadi 5 desa. Di sana, tanaman merica tampak tumbuh gemuk dan subur, bertumpu pada tiang-tiang yang ditancapkan dengan kuat ke dalam tanah pegunungan yang gembur. Pada tiang-tiang itu, buah-buah merica bermunculan menjuntai-juntai dengan lebatnya.
Mahalona berjarak sekitar 34 kilometer dari Ibukota kecamatan. Penduduknya, pada umumnya adalah petani. Kawasan ini juga merupakan salah satu unit pemukiman transmigrasi (UPT) di Luwu Timur. Mahalona dihuni oleh orang-orang dari beragam suku dan etnis. Bugis, Makassar, Jawa, dan Bali. Untuk menuju ke sana, kita akan membelah hutan, melewati jalan yang belum beraspal. Kubangan air dan lumpur, jembatan dari dua belahan pohon, adalah pemandangan yang lazim. Pada musim hujan, tidak sembarang kendaraan yang bisa melewati jalan tersebut. Orang-orang Mahalona sendiri, yang tentu sudah paham kondisi tersebut, telah mengantisipasi. Mereka mendesain kendaraan roda dua agar bisa melewati jalan macam ini. Demikian juga dengan mobil-mobil angkutan yang biasanya berupa mobil jenis Panther atau Kijang. Umumnya, ban mobil akan diganti dengan jenis GT Radial yang cocok melewati segala medan, termasuk jalan berlumpur.
Akses jalan ke Mahalona
Tapi sejak lonjakan harga merica itu, para petani menemukan jenis kendaraan yang lebih tepat dan praktis yang tak perlu dimodifikasi ulang. Dan tentunya, terlihat terlalu mewah untuk kelas kawasan pemukiman transmigrasi di tepi hutan seperti Mahalona. Di jalan tanah merah yang penuh kubangan lumpur itu, berseliweran motor jenis trail yang tampak masih baru. Ninja. Juga mobil jenis double cabin. Mitsubishi Strada atau Toyota Hilux.
“Di sini, orang-orang membeli mobil seperti membeli sayur,” kata Mamad, sopir yang mengantarkan saya dan teman-teman dari JURnaL Celebes dari Towuti ke Desa Buangin. Desa Buangin berada di ujung kawasan Mahalona, berbatasan langsung dengan Sulawesi Tengah dan Tenggara. Mamad berkata demikian karena orang-orang itu membeli mobil mahal seakan tanpa beban. Jika ingin beli mobil, ya langsung beli saja. Tunai. Tanpa tawar menawar. Persis seperti membeli sayur. Jika ingin mobil jenis lain, ya beli lagi. 
“Orang itu baru kemarin beli mobilnya,” kata Mamad lagi saat kami berpapasan dengan sebuah mobil Hilux yang pengemudinya ia kenal. Mobil itu berhenti di sisi mobil kami. Pengemudinya bercakap-cakap sejenak dengan Mamad. “Ia sedang membangun rumah senilai 1 Miliar,” tambah Mamad saat mobil kembali melaju.
Sejak kurang lebih setahun terakhir, harga merica melonjak drastis. Sekilo bisa dijual seharga Rp 110-150 ribu. Bayangkan saja jika seseorang memiliki 1000 pohon merica dalam sepetak lahan. Setiap pohon, biasanya bisa menghasilkan 5-6 kilogram sekali panen, yang dilakukan sepanjang September hingga Februari dalam setiap tahun. Buahnya bermunculan tak henti-henti. Sekali panen, petani bisa menghasilkan ratusan juta. Bagaimana dengan panen kedua, ketiga, dan seterusnya?
Camat Towuti, Pak Aswan Azis mengatakan, di Towuti ada kepala desa yang memiliki kebun merica hingga 150 hektar. (Bisa membayangkan berapa uang yang diperoleh setiap panen yang berlangsung selama 6 bulan non-stop setiap tahun? Saya tidak bisa). Jika ia hendak menjual hasil panen, ia akan carter kapal ke Surabaya, menyeberang melalui Pelabuhan Timampu. Jika ingin bawa uang hasil panen ke bank, ia akan minta dikawal polisi dalam perjalanan. Menurut Pak Aswan, salah seorang pedagang pengumpul merica di Towuti pernah melakukan pembelian hingga Rp 700 Miliar. Peredaran uang sebanyak itu di sebuah kecamatan kecil, tentu merupakan hal yang terlalu luar biasa.
Hutan yang telah dibakar untuk berkebun merica
Merica di Mahalona tak serta merta bisa disebut telah menyejahterakan petani, tapi juga merusak dan menghancurkan. Bahkan dampak kerusakan itu terasa lebih mengkhawatirkan ketimbang keuntungan yang diterima oleh hanya segelintir petani saja. Orang-orang yang beruntung itu adalah yang sedari awal fokus bertanam merica, jauh sebelum harga melonjak. Sementara mereka yang hanya mengembangkan tanaman lain, atau tidak memiliki lahan, hanya jadi penonton atau buruh pemetik. Kecemburuan meningkat. Banyak petani yang kecurian saat hasil panennya tengah direndam. Biasanya buah merica direndam selama 15-18 hari sebelum dikelupas dari kulitnya. Adapula yang kalap membabat hutan agar bisa ikutan menanam merica.
Merica membuat banyak hal berubah di Towuti, termasuk gaya hidup penduduknya. Sehabis panen, mereka berbondong ke Makassar, berkunjung ke mall-mall, dan membeli sejumlah barang, yang terkadang berlebihan. Cerita lain mengenai ini saya dapatkan dari Pak Ulfa di Desa Buangin. “Ada teman saya, pergi ke Makassar hanya untuk sekedar cukur rambut,” ucapnya sambil tertawa terbahak-bahak.
Para petani yang sedari awal tak memiliki kemampuan dan pengetahuan mengenai sistem manajemen keuangan, jadi kalap ketika mendadak memiliki uang banyak. Mereka menjadi konsumtif secara berlebihan, tak terpikir untuk investasi. Padahal, lonjakan harga hasil pertanian macam ini, biasanya terjadi secara berkala dan hanya beberapa saat, tidak terus-menerus.  Hal sama pernah terjadi dengan kakao dan cengkeh. Di kampung saya di Bulukumba, para petani sama kalapnya ketika itu. Konon, ada yang membeli kulkas meski rumahnya belum dialiri listrik. Akhirnya, kulkas malang itu difungsikan sebagai lemari pakaian.
Harga barang kebutuhan pokok di Towuti juga berubah drastis. Semuanya melonjak tanpa tedeng aling-aling. Penyebabnya adalah kebiasaan penduduk, khsusnya petani merica membeli barang-barang tanpa tawar-menawar dengan penjualnya. Untuk apa menawar? Uang yang ada saja bingung mau dikemanakan. Merica pulalah yang merusak kebiasaan gotong royong, yang biasanya masih tumbuh mekar di desa-desa terpencil seperti Mahalona. Warga tak lagi berminat saling membantu, atau bergotong royong membangun fasilitas publik. Setiap tenaga yang dikeluarkan mesti ada harganya. Untuk apa gotong royong, jika mereka bisa menghasilkan uang Rp 80 ribu sehari jika memetik merica di desa sebelah?
Tanaman merica di sepanjang jalan
Sementara itu, anak-anak pun terkena dampaknya. Di warung-warung di desa, menurut Pak Rahmat, anak-anak bisa belanja jajan hingga 3 kali sehari. Pagi-pagi, mereka akan datang ke warung dengan membawa uang pecahan 100 ribu. Sekali belanja menghabiskan 20-30 ribu. Sisa uang kembalian akan dihabiskan saat mereka jajan lagi pada siang dan sore hari. Yang menggelisahkan, gaya hidup anak-anak petani merica itu, entah mengapa telah menular pada anak-anak lain, yang orang tuanya tak punya kebun merica. Mereka seakan tak mau kalah.
Hal paling menakutkan, yang kelak akan menjadi puncak dari bom merica ini adalah kerusakan hutan. Di sepanjang jalan desa, saat kita mendongak ke atas ke arah pegunungan, akan tampak dengan sangat jelas lahan-lahan yang tak lagi hijau. Seluruhnya berganti menjadi hamparan tanah kecoklatan dengan potongan-potongan kayu hitam sisa pembakaran hutan. Pelakunya adalah orang-orang yang tergoda tingginya harga merica. Seperti petani yang telah merasakan manisnya hasil bertani merica, mereka juga ingin merasakan hal yang sama. Karena tak punya lahan, jalan satu-satunya yang mereka lakukan adalah membakar hutan. Kayu sisa hasil pembakaran mereka tegakkan kembali untuk bakal tempat merambatnya tanaman merica.
Salah satu kawasan yang telah gundul akibat dibakar dengan segaja, saya saksikan langsung ketika menyusuri tepian Sungai Lamonto yang mengalir di belakang pemukiman warga Desa Buangin. Menurut Kepala Desa Buangin, Pak Rahmat, kawasan itu beberapa bulan sebelumnya masih hijau. Luas lahan yang dibakar mungkin mencapai 3 hektare, memanjang di tepian sungai. Di beberapa bagian sudah ditanami bibit merica. Pak Rahmat, mengaku tak tahu siapa yang melakukannya. Kawasan tersebut sebenarnya masih masuk area lahan transmigrasi. Warga Desa Buangin sendiri, kebanyakan hanya menjadi buruh pemetik di desa tetangga.
Di sela-sela perbukitan yang telah gundul itulah, Sungai Lamonto yang berhulu di Morowali, mengalir dengan derasnya. Sungai ini menjadi sumber irigasi bagi lahan pertanian warga di 5 desa. Kita yang menyaksikan kenyataan ini dari jauh saja, dapat membayangkan bahaya apa yang hendak dituai oleh warga di sana. Cepat atau lambat, jika tak segera ada penanganan, tanah dari ketinggian itu, yang kini tanpa pepohonan, akan longsor ke bawah dan menghancurkan kawasan Mahalona dan sekitarnya, seperti peristiwa yang sudah-sudah. Hal seperti ini sebelumnya pernah terjadi di Enrekang dan Sinjai. Banjir bandang yang bermula dari pegunungan gundul mengalir jauh hingga kota, menghancurkan lahan pertanian dan rumah-rumah penduduk. Bahkan mengambil korban nyawa. Tanaman merica memang berbuah manis. Tapi akibat jangka panjangnya, tentulah pahitnya tak tertanggungkan.  (*)

Danau Towuti

Kelompok akademisi gabungan dari beberapa negara, termasuk Indonesia, akan mengadakan penelitian di Danau Towuti. Danau ini merupakan salah satu danau purba di Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan.

“Kami bermaksud meneliti tentang perubahan iklim yang terjadi dan mendokumentasikan proses geo-mikrobiologis yang terjadi di lapisan sedimen danau,” kata James Russell, anggota penelitian, saat konferensi pers di Restoran Meradelima, Jakarta Selatan, Jumat, 30 Januari 2015.

Menurut Russell, curah hujan di danau ini cukup tinggi. “Berkisar tiga meter kubik per tahunnya saat musim hujan,” kata dia. Sedangkan saat musim kering mencapai satu meter kubik.

Russell, yang merupakan peneliti dari Departemen of Earth, Environmental and Planetary Sciences, Brown University, Amerika Serikat, menyatakan Danau Towuti sebagai danau terluas kedua di Indonesia setelah Danau Toba. Kedalamannya pun, kata dia, hingga saat ini masih menjadi misteri, karena kontur danau yang tak sama di tiap titik.
 


Dia mengatakan tim penelitian akan mengebor hingga kedalaman 300 meter di tengah danau. “Sejumlah sampel akan diambil untuk bahan dasar analisis iklim,” ujarnya. Pengambilan sampel, dia menjelaskan, akan dilakukan selama dua bulan dari pertengahan Mei.

Satria Bijaksana, ketua tim peneliti dari Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan, Institut Teknologi Bandung, mengatakan analisis sampel akan dimulai pada Agutus 2015. “Diperkirakan analisis akan memakan waktu dua sampai tiga tahun,” ujarnya.

Satria berharap studi ini juga dapat membedah banyak hal. Di antaranya, dia menyebutkan, perubahan kimia, proses biologis, dan keberagaman ekosistem yang ada di Danau Towuti. 

Sebelumnya tim ini sudah mengambil sampel dari kedalaman 10 meter pada beberapa waktu lalu. Sampel awal tersebut, Satria mengatakan, dapat menggambarkan kondisi danau pada 60 ribu tahun silam. “Juga masalah pergeseran tektonik.” Hanya, Satria belum bisa memperkirakan hasil yang akan didapat dari penelitian ini.

PT Vale, perusahaan multinasional yang bergerak di bidang pertambangan, memberikan dukungan logistik dalam penelitian ini. Presiden Direktur PT Vale, Niko Kanter, mengatakan bantuan ini termasuk komitmen korporatnya dalam menjaga lingkungan.

Niko membantah perusahaannya mendompleng penelitian ini untuk mencari lahan baru untuk pertambangan. “Daerah Danau Towuti merupakan daerah yang tak boleh ditambang,” katanya saat menjawab pertanyaan dari Tempo.

Satria menambahkan, danau tersebut merupakan bagian dari oviolit belt. Artinya, bebatuan mineral, yang harusnya tersimpan di dalam tanah, menyembul keluar karena proses alami. “Ini tak boleh ditambang.”

Proyek penelitian Danau Towuti bergerak di bawah naungan Program Pengeboran Kontinental Internasional (ICDP). Di antaranya, yaitu Brown University, Institut Teknologi Bandung, National Lacustrine Core Facility, National Science Foundation, PT Vale dan dukungan dari DOSSECC Incorporation.

Explore Sorowako

Soroako, yang terlintas dipikiran saya ketika mendengar kata ini adalah asal daerah beberapa teman waktu masih sekolah dulu, yep jaman SMP SMA beberapa teman saya berasal dari Kota ini, saat itu yang saya tahu tentang kota ini aalah, kota tambang nikel nan jauh paling ujung sulawesi selatan. dulu saya gak pernah punya mimpi untuk berkunjung ke kota ini, selain karena jauh ya.. jaman sekolah uang jajan Cuma cukup beli gorengan di sekolah sukur-sukur kalo bisa bareng teh gelas,  sampai suatu hari saya melihat updatean gambar bbm salah satu teman yang berasal dari sana, difoto yang diposting sebagai profile picture bbm tersebut dia sedang main kayak dengan latar belakang danau matano., disitu kadang saya merasa senduh gundah gulana.. loh? hehe
ya dari situ saya mulai punya mimpi kalo suatu hari saya harus kesana… bermain kayak di salah satu danau terdalam didunia dengan background pegunungan verbek wahhhh gak kebayang gimana rasanya kayak pengantin baru kali ye? nyegerin ..brrrr
akhirnya saya dan seorang kawan mereservasi tiket bus menuju Soroako Kab Luwu timur. perjalanan ditempuh kira-kira 12 jam dengan bus Liman, bus cukup nyaman ada selimut, bantal dan ruang kaki yang luas, bus Liman berangkat jam 19;00 dari makassar dan tiba di soroako sekitar 7pm. kami pun diturunkan di perwakilan Bus, aka terminal.
di Soroako angkutan umum  satu-satunya hanyalah ojek, jadi jangan harap ada Angkot, Becak atau Kopaja., hahaha… turun dari bus kalian akan disambut bak putri raja oleh beberapa kang ojek, karena trip saya kali ini adalah perjalanan yang hanya direncanakan beberapa jam saja sebelum berangkat jadi kami tidak sempat reservasi hotel sebelum berangkat tapi jangan takut kang ojek akan dengan senang hati merekomendasikan hotel atau penginapan yang sesuai budget kamu.
setelah tiga penginapan yang kami kunjungi tidak sesuai dengan kenyamanan dan kestabilan perjalanan ini, haalahhh..  akhirnya kami tiba di tempat terakhir, Abadi Guest house relatif murah dan strategis, setelah istirahat sebentar tujuan pertama kami adalah Mining Park dan Bukit Poci, tempat ini lumayan berjarak dekat dari penginapan, tidak lebih 10 menit dengan ojek, sayangnya kami datang terlalu cepat ke Mining Park, ternyata jam buka weekdays adalah jam 5 sore setelah para pekerja selesai.
Bukit Poci,
Bukit Poci,
akhirnya kami memutuskan untuk datang besok sabtu paginya, perjalanan kami lanjut ke Bukit Batel atau orang lokal biasa menyebutnya Poci. dari bukit ini kita bisa melihat keseluruhan wilayah Soroako dan danau Matano yang popular itu, konon katanya kalau kita datang ke tempat ini jam 6-7 pagi kita bisa melihat pesawat yang take-off dari landasan di bawah sana. menuju tempat ini kita harus tracking sekitar 30 menit, medan nya tidak sulit karena sudah ada beberapa bagian yang dibeton untuk memudahkan pengunjung.
Jalan Beton jalur bukit poci
Jalan Beton jalur bukit poci
setelah menikmati bukit Poci kami pun mencoba menyusuri kota dengan berjalan kaki, Soroako adalah kota kecil yang nyaman dan bersih jadi asik aja jalan kaki di kota ini, selain karena di daerah poci jarang ada ojek. yahh itung-itung olahraga walaupun gempor maksimal hikshiks. masih ada banyak waktu yang tersisa sebelum hari gelap, kami memutuskan untuk mengunjungi pantai ide, pantai air tawar dari danau Matano, airnya bersih dan segar terjun dari dermaga is a must, perjalanan menuju pantai ide akan melewati kawasan Salonsa kompleks perumahan Karyawan Vale, jejeran rumah kayu berwarna hijau seragam sederhana asri dan bersih berasa lagi di belanda euy..
ImageJPEG_0027
Pantai ide
Hari kedua kami mengeksplore Danau Matano, yes it is much exited. dari penginapan kami hanya berjalan kaki menuju dermaga dimana kita bisa menyewa perahu boat menyusuri danau Matano.  harga bervariasi tergantung spot mana saja yang ingin anda kunjungi. kami memilih spot gua air dan pulau Mangga. menyusuri danau Matano sebenarnya seharian akan tidak cukup karena masih ada air terjun mata buntu dan sungai dingin yang bisa dikunjungi tapi kami memilih untuk memaksimalkan waktu berhubung titik lokasi tersebut terbilang jauh.
Mulut Gua Air
Mulut Gua Air
Gua Air tampak Atas
Gua Air tampak Atas
berenang di gua air sangat menyegarkan, beruntung saat itu air sedang surut jadi kami dengan bangga bisa masuk kedalam gua dan berenang cantik ala putri duyung, hiuhhsssss.. untuk mengambil gambar dari atas  medan yang dilewati cukup terjal, pijakan kaki hanya ranting pohon dan beberapa bebatuan tajam jadi hati-hati yah guys kalau mau panjat ke tebing
IMG20141227104315
Gugusan Pulau Mangga yang cantik
dari gua air kami melanjutkan penyusuran ke Pulau mangga, gugusan pulau-pulau kecil di danau Matano. sebenarnya pulau ini tidak mempunyai nama resmi, masyarakat lokal menyebutnya pulau mangga karena di pulau-itu
banyak tumbuh pohon mangga.
yang seru saat kalian menyusuri danau Matano adalah spot-spot yang ada belum banyak dikunjungi, jadi berenang disini seperti berenang di pulau pribadi.
Pulau Mangga
Pulau Mangga
puas basah-basahan saya dan kawan melanjutkan tujuan yang kemarin tertunda, Mining Park, tempat ini adalah museum alat berat dari perusahan PT Vale Indonesia, kalian bisa mencoba sensasi berada di atas mobil yang ban nya lebih tinggi dari badan Anda. mintalah izin di security bagian nursery untuk masuk kawasan ini,
Salah Satu koleksi di Mining Park
Salah Satu koleksi di Mining Park
Berikutnya perjalanan kami lanjutkan ke Matano Yach club di daerah Pontado,  untuk menuju tempat ini, Anda akan melewati kompleks kawasan perumahan pejabat PT Vale Indonesia. halaman yang luas dan tertata rapi sungguh menyenangkan.
Dermaga Pontado Matano Yacht Club
Dermaga Pontado Matano Yacht Club
sebenarnya kami bertujuan untuk mencoba olahraga Yacht atau paling tidak kayak tapi sayangnya arus air dan angin sedang tidak bagus jadi kami membatalkan niat, alhasil kami hanya duduk santai di dermaga menunggu senja.
Kawasan Peleburan PT Vale Indonesia
Kawasan Peleburan PT Vale Indonesia
Sebelum kembali ke penginapan, kami mencoba mengunjungi kawasan peleburan PT Vale Indonesia, setiap jam 7 – 8 malam langit Soroako terlihat merah, ini dikarenakan efek dari peleburan nikel perusahaan tersebut. sayangnya pada saat mengunjungi tempat ini, kami berada di sisi yang berbeda, dimana peleburan yang dimuntahkan tidak menghadap ke kami, tapi kami masih bisa merasakan dahsyatnya api leburan, saya dan kawan tiba-tiba merinding dan takjub saat peleburan itu dimuntahkan dari mobil raksasa, kami membayangkan api neraka.. maafkan baim tuhaaaannn… menuju kawasan ini membutuhkan sekitar 25 menit dengan ojek.
Hari terakhir sebelum kembali ke Makassar kami mengunjungi Air Terjun Mata Buntu di Desa Wasuponda Soroako. Air terjun ini merupakan air terjun bertingkat yang memiliki sekitar 20 tingkatan, Jika tidak hujan air yang jatuh sangat jernih dan segar, ditambah kawasan hutan yang masih perawan membuat tempat ini terasa sangat sejuk.
Tingkatan paling atas air terjun Mata Buntu
Tingkatan paling atas air terjun Mata Buntu
menuju Air Terjun Mata Buntu menghabiskan sekitar 40 menit dari Soroako menggunakan ojek, Anda akan disambut paparan sawah hijau yang indah saat memasuki kawasan ini. Air Terjun Mata Buntu sudah menjadi tujuan wisata penduduk sekitar saat libur tiba, jadi jika ingin lebih leluasa hindarilah hari libur.
Setelah bermain di Air Terjun Mata Buntu tempat terakhir yang kami kunjungi adalah Sungai Larona di Desa Karebbe perbatasan Malili Soroako, masih menggunakan ojek jarak yang ditempuh sekitar 25 menit dari Wasuponda, sebenarnya jika Anda menggunakan kendaraan pribadi, Anda akan melewati tempat ini sebelum tiba di Soroako jadi Anda bisa menyempatkan untuk mengabadikan gambar.